A.
Hari/Tanggal
Pengamatan :
Minggu,
25 Oktober 2015
B.
Judul/Nama
Tarian :
Tari
golek ayun-ayun Yogyakarta
C.
Pencipta/Koreografer :
KRT. Sasminta Mardawa, Beliau Bernama asli
Soemardjono atau akrab dipanggil Romo Sas. Mpu seni tari klasik gaya Yogyakarta
ini, dilahirkan di Yogyakarta, 9 April 1929. Lahir dari pasangan Raden Bekel
Mangoen Soerowibowo dan Suyatimah. Ayahnya seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Sejak kecil, Beliau sudah akrab dengan aktivitas berkesenian di lingkungannya.
Di usia 13 tahun, Beliau sudah diarahkan ayahnya menjadi penari. Dibimbing guru
tari Purbaningrat, untuk menjadi penari keraton.
Belajar menari terutama karena ingin mendalami etika
orang Jawa dalam pergaulan sosial, selain pengolahan batin. Sejak Beliau giat
belajar menari Beliau mengaku menjadi tahu unggah-ungguh, subasita,
serta sopan-santun, dan secara batinpun Beliau menjadi terasah. Meski dalam
pendidikan formal, Beliau hanya sempat meraih ijazah sekolah dasar. Namun hal
itu tak menghalanginya belajar keras menjadi seorang penari klasik gaya
Yogyakarta. Kegigihannya belajar tari, dalam usia muda membuatnya menjadi cepat
dikenal sebagai penari Keraton Yogyakarta, baik untuk tarian putri maupun
putra.
Semakin dewasa, Beliau semakin giat menggeluti jagat
tari klasik gaya Yogyakarta. Bahkan ketika Beliau berusia 17
tahun, Beliau sudah mulai menjadi pengajar tari di beberapa sekolah. Beliau
mengajar banyak penari. Selain itu ia juga mengkreasi lebih seratus tarian
klasik, gaya Yogyakarta baik tari tunggal untuk putra dan putri, maupun tari
berpasangan dan tari fragmen. Tak hanya itu, sebagai penata tari, Beliau juga
telah melakukan lawatan ke beberapa negara memperkenalkan tari klasik gaya
Yogyakarta hasil kreasinya. Karya-karya tarinya yang sangat digemari antara
lain tari Golek, Beksan, Srimpi dan Bedhaya.
Seniman tari yang berpenampilan sederhana dan
perokok berat ini, dalam mengkreasi suatu karya tari selalu terlebih dahulu
melakukan penyesuaian antara tari klasik gaya Yogyakarta yang akan di gubahnya
dengan kondisi masyarakat modern. Beliau berani melakukan peringkasan dalam
sebuah tarian ataupun fragmen. Namun peringkasan yang Beliau lakukan tidak
mengganggu apalagi menghilangkan esensi tari atau fragmen tersebut. Langkah
tersebut di tempuh agar tari klasik gaya Yogya tetap hidup dan digemari oleh
masyarakat. Tahun 1962, Beliau mendirikan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta
Mardawa, sebuah yayasan yang khusus melestarikan dan mengembangkan tari klasik
gaya Yogyakarta. Karya-karyanya juga banyak yang sudah diajarkan baik di bangku
pendidikan formal di SMK 1 Yogyakarta maupun ASTI (kini ISI) Yogyakarta atau
secara informal. Kendati tak punya ijazah sarjana, Beliau telah dipercaya
menjadi dosen tamu di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Beliau juga
pernah tampil di Malaysia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa
Negara di Eropa. Penghargaan pun mengalir sebagai bukti pengakuan atas
karya-karyanya. Di antaranya Hadiah Seni dari Gubernur DIY tahun 1983, hadiah
seni dari Mendikbud RI tahun 1985, dan Certificate of Apprecition dari
Lembaga Kebudayaan Amerika tahun 1987.
Selain itu, suami dari Siti Sutiyah BA, yang
merupakan bekas anak didiknya ini, juga mendapat Penghargaan dari almarhum Sri
Sultan HB IX dengan memberinya kepercayaan kepadanya untuk menata perpaduan
tari klasik gaya Yogya dengan tari klasik gaya Surakarta. Suatu hal yang semula
dianggap tidak mungkin dilakukan. Kepercayaan tersebut tidak disia-siakan
olehnya. Baginya memadukan tari gaya Yogya-Solo bukan hal yang sulit, sebab
prinsipnya pola gerak, tarian serta gamelan adalah sama. Hanya pada
bentuk-bentuknya yang berbeda. KRT. Sasmita Mardawa wafat 26 April 1996.
D.
Sinopsis/Alur
Cerita :
Tari Golek ayun-ayun dikatakan sebagai tarian yang menggambarkan
remaja putri yang sedang berhias diri, atau bersolek. Memang di dalam tari Golek,
ada bagian yang menggambarkan seorang perempuan yang sedang berhias diri,
seperti: tasikan : memakai bedak, atrap cundhuk : memasang cundhuk, hiasan yang
dipasang di sanggul atrap jamang : memasang jamang, semacam mahkota. atrap
slepe : memasang sabuk, dolanan supe : memain-mainkan cincin, ngilo : berkaca.
miwir rikma : merapikan rambut, semacam menyisir, dan lain-lain Yang terlihat
(di panggung) memang orang yang sedang bersolek. Tarian ini menceritakan
seorang gadis muda yang sedang beranjak dewasa dan senang mempercantik diri. Dengan
lemah gemulai penari menggerakkan tangannya ada yang sedang seperti bersolek,
ada juga yang seolah-olah memperlihatkan sedang menyulam, serta gerakan-gerakan
lainnya
E. Jumlah
dan Jenis Kelamin Penari :
Tarian golek ayun-ayun di kraton
Yogyakarta saat pengamatan dilakukan oleh satu orang penari perempuan yang
bernama Dewati.
F. Jenis
Tari Berdasarkan Bentuk Koreografinya :
Tarian golek ayun-ayun ini merupakan
jenis tarian tunggal karena tarian dilakukan oleh seorang penari (saat dilakukan
pengamatan di kraton Yogyakarta.
G. Rias
(karakter) :
Dari tata rias tari golek ayun-ayun
menggambarkan karakter senang.
H. Kostum
dan assesoris :
Deskripsi Busana
dan Asesoris
No.
|
Nama Unsur Busana
|
Deskripsi
|
1.
|
Jarik
|
Kain bermotif batik berbentuk segi panjang yang mempunyai
ukuran 3x1,5 meter. Jarik berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah.
Penggunaannya dengan cara dililitkan pada tubuh kemudian bagian tepinya
disisakan untuk diwiru pada kaki bagian kiri.
|
2.
|
Stagen
|
Kain bentuk persegi panjang dengan ukuran panjang ±3meter
yang diguanakan untuk melekatkan jarit agar tidak mudah lepas dan kencang.
Penggunaannya setelah memakai jarit dengan cara dililitkan ke tubuh secara
kencang agar tidak mudah lepas.
|
3.
|
Rompi
Bludru
|
Kain bludru yang dijahit dengan bentuk rompi (baju tanpa
lengan) yang permukaannya seperti bulu-bulu halus yang lembut dan dihiasi
dengan mute kecil-kecil dengan motif bunga. Penggunaannya setelah memakai
jarit dan stagen, dengan cara dikaitkan kancingnya.
|
4.
|
Sampur
|
Kain bentuk persegi panjang dengan motif batik yang
digunakan untuk property menari. Penggunaanya setelah memakai rompi bludru
dengan cara diikatkan ke pinggang kemudian dipakaikan sabuk
|
5.
|
Slepe/Sabuk
|
Alat yang berbahan kaku dan dihiasi mute-mute di sepanjang
tepinya, dengan bulatan berbahan perunggu sebagai pengkaitnya. Penggunaannya
setelah memakai sampur, kemudian sabuk dililitkan ke pinggang kemudian
dikaitkan.
|
6.
|
Gelang
Tangan
|
Perhiasan yang terbuat dari perunggu, kuningan dan
sebagainya, yang dihiasi dengan berlian-berlian yang berkilau, digunakan
untuk menghiasi pergelangan tangan. Penggunaannya setelah semua kostum
dikenakan.
|
7.
|
Gelang
Bahu/klat bahu
|
Perhiasan yang terbuat dari kulit kerbau yang dihiasi
dengan mute-mute berwarna emas, digunakan untuk menghiasi bahu. Penggunaannya
setelah semua kostum dikenakan, dengan cara diikatkan ke bahu.
|
8.
|
Subang
|
Perhiasan yang terbuat dari perunggu, kuningan dan
sebagainya, yang dihiasi dengan berlian-berlian yang berkilau dan mute-mute
berwarna keemasan yang berbentuk bulat, digunakan untuk menghiasi kedua
telinga. Penggunaannya setelah semua kostum dikenakan dengan cara dikaitkan
pada telinga.
|
9.
|
Kalung
|
Perhiasan berbentuk tiga tingkatan bulan sabit yang
terbuat dari perunggu, kuningan dan sebagainya, yang dihiasi dengan
berlian-berlian yang berkilau, digunakan untuk menghiasi pergelangan tangan.
Penggunaannya setelah semua kostum dikenakan.
|
10.
|
Sumping
|
Hiasan yang terbuat dari kulit kerbau dan dihiasi
mute-mute berwarna emas yang digunakan untuk menghias telinga setelah
dibentuk godeg dan dipasangi anting-anting. Cara pemakaiannya yaitu dengan
cara dipasangkan pada cuping telinga. Penggunaanya setelah semua kostum
dikenakan.
|
11.
|
Jamang
|
Hiasan kepala dengan lancur atau bulu.
|
12.
|
Ceplok jebehan
|
Hiasan bunga yang terbuat dari kain saten atau beludru
yang diletakkan pada gelungan kepala.
|
13.
|
Sinyong
|
Visualisasi dari rambut yang diikat seperti bentuk sanggul
yang terbuat dari kain saten atau beludru.
|
14.
|
Pelik
|
Visualisasi bunga
melati yang terbuat dari kertasyang ditengahnya diberi ketep.
|
15.
|
Cunduk menthul
|
Perhiasan seperti cundhuk seperti bentuk bunga yang bisa
bergerak seperti pir atau bahasa jawa menthul-menthul. Perhiasan ini
dikenakan pada sanggul, bahannya terbuat dari emans atau tiruan emas.
|
I. Iringan
yang digunakan (internal/eksternal) :
Iringan tari Golek Ayun-Ayun adalah
gending ayun-ayun wirama 1,2, dan 3.
J. Bentuk
dan Setting Panggung :
Bentuk setting panggung yang
digunakan yaitu berbentuk pendapa.
K. Tata
Pencahayaan :
Tata pencahayaan dalam pementasan
yang dilakukan di kraton Yogyakarta saat pengamatan adalah general.
L. Lamanya
Pementasan :
Tari golek ayun-ayun ditampilkan
dengan durasi 12 menit.
M. Properti
yang digunakan :
Pada tari golek ayun-ayun properti
yang digunakan adalah sampur, yang telah diikatkan ke pinggang yang merupakan
bagian dari busana tari.
N. Keunikan
pada tari golek ayun-ayun :
Golek ayun-ayun merupakan tarian
klasik jogja, sehingga hal yang unik dari tarian ini adalah koreografinya atau
gerakan tarinya. Karena gerakan-gerakan sangat indah dan tidak membuat orang
bosan untuk melihatnya.
LAMPIRAN

KRT. Sasminta Mardawa pencipta tarian Golek
Ayun-Ayun

Tari
Golek diawali dan diakhiri sembahan dalam posisi bersila, gambar di atas adalah
jengkeng sesudah bersila

Gerakan
tinting


Tasikan
(gerakan memakai bedak)

Antrap
jamang

Gerak
seblak


Foto
saat wawancara dengan penari